Senin, 26 Mei 2008

Mengukur Dewasa

Kadang-kadang di penghujung hari sebelum tidur, otak saya seperti DVD yang di-rewind belasan chapter. Kejadian seharian (ga seluruhnya sih) terputar kembali di otak ini. Ada yang gambarnya sejelas DVD, ada yang runyem seperti gambar saluran spacetoon di TV rumah, ada yang siluet doang, atau malah ada yang kayak tv dimatiin. Dari kekadang-kadangan tadi seringkali banyak hal-hal yang ingin saya ulang, perbaiki, atau bahkan hapus. Pernyataan yang klise! Tapi pernyataan klise merupakan sebuah pernyataan yang ternyata bukan!? Sekitar semingguan terakhir ini banyak sekali perbincangan bersama teman yang setelah saya rewind kembali, ingin rasanya saya edit kata-kata saya. Kata-kata itu kalau tidak menyinggung, membuat saya terlihat bodoh, atau membuat enek orang yang denger. Untuk satu contoh adalah ketika saya mau bicara sesuatu (yg berunsur curhat-diplomatis-filosofis) ke seorang teman. Ketika saya baru mau memulai kata-kata, dia pun memotong dengan berkata:"iya..iya..gw ngerti..gw ngerti!", saya pun berkata:"Lu ga ngerti tau!", lalu si teman pun menjawab:"ya....gw ngomong gitu biar lu diem aja". Sebegitu rewelnya kah saya sampai-sampai si teman yg di mata saya merupakan a good listener tersebut berkata seperti itu??? Sejenak agak kecewa, tapi sedetik kemudian saya pun sadar mungkin memang saya lah yang membuatnya malas mendengar omongan saya yang ga penting.

Huwwaaaaaaaahhhhhhhh.....kadang-kadang pengen juga jadi orang yang pendiem. Tapi ga kebayang juga seharian tanpa ngungkapin semua yang tercecer di otak ini. Salah satunya ngomentarin orang. Ngometarin orang rasanya udah jadi bagian dari idup. Udah kayak refleks, udah kayak nafas yang ga disadarin (berlebihan ya). Untuk yang satu ini, saya pun punya dalih. Ngomentarin orang ato ngomongin orang jangan hanya dilihat dari sisi negatifnya saja. Anggap aja ngomentarin orang itu ibarat sebuah kuliah tentang mana yang baik dan yang buruk. hehee. Walopun dengan gitu kita sendiri udah jadi contoh nyata buat diri kita dan orang lain tentang yang buruk.

Lalu saya pun sadar umur kepala satu sebentar lagi beres buat saya. Agak kaget ternyata saya sudah sampai di fase dewasa dalam sebuah balada tarik oksigen dan buang karbondikosida ini. Saya pun mengingat-ingat tentang hal apa saja yang telah saya lakukan yang membuat saya pantas disebut dewasa. Dewasa yang dalam bahasa Inggris 'mature' bukan sekedar 'adult'. Bukan dewasa yang diukur dari tumbuhnya jenggot atopun kantong belanja bulanan yang berisi pembalut. Bukan dewasa yang diukur dari tontonan kita yang bukan kartun lagi. Dewasa yang mampu menerima dan menilai diri maupun sekitarnya dengan apa adanya, tanpa berpikir seharusnya begini atau seharusnya begitu. Tanpa berpikir andai tidak begini atau andai tidak begitu. Itu secuil definisi personal saya mengenai kata 'dewasa' yang mungkin terlihat dangkal. Tentang hal apa saja yang telah saya lakukan yang membuat saya pantas disebut dewasa, hmm....rasanya orang dewasa tidak akan menyebutkan hal apa saja yang telah ia lakukan yang membuatnya pantas disebut dewasa. xoxoxo

Dan...di sela-sela laparnya perut, tiba-tiba saja saya ingat pada rentetan kata Sapardi Djoko Damono:

"waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan"

-Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari-

1 komentar:

susye mengatakan...

fan teman mu itu bukan aku kan??
duh si stupid mouth jadi grogi..
takutakut salahucap