Sabtu, 24 Mei 2008

Mati dan Film

Ingin rasanya kubilang: "Akhirnya datang juga!"
Ketika waktu habis dan nafas tak dapat dibeli
Ketika jantung lelah berdetak
Ketika raga menyerah pada gravitasi
Ketika darah enggan mengalir
dan nadi hanyalah tonjolan kaku di pergelangan tangan dan pangkal leher
Karena mungkin sebagian dari kita hanya mampu berkata
"Tunggu dulu!"
Ketika semua itu datang.....

Saya bukan perenung kehidupan yang handal ataupun filsuf yang kian berpikir tentang hidup dan mati. Hanya manusia yang memang mau tak mau harus tahu tentang mati. Coba berharap dapat hidup tenang dan senang, tanpa buat orang berang, sambil berdoa agar tidak ada perang.
Ironis memang jika kita lihat dalam film-film. Setiap jenis film yang berbeda menyajikan kematian dalam perspektif yang berbeda pula. Dalam film drama, satu orang yang sekarat saja akan begitu mati-matian mempertahankan hidupnya sambil dikelilingi orang-orang yang tidak menginginkan kematiannya. Dalam film action, peluru melayang kemana-mana menembus tubuh-tubuh orang dan membunuhnya begitu saja. Dalam film komedi, kematian pun dapat menjadi bahan lelucon yang merangsang tawa orang-orang. Dalam film horror, kematian ditampilkan sebagai awal dari kehidupan yang lebih bebas, yaitu bisa menembus dinding dan menakut-nakuti orang. Sedangkan dalam film fiksi ilmiah, kematian ditampilkan sebagai sesuatu yang nihil dan absurd.
Begitulah cara film menempatkan kematian. Begitu juga dengan kita. Kita hanya tinggal memilih dari sisi mana akan memandang kematian. Kita bisa menjadi "film drama" yang takut akan kematian. Atau "film action" yang begitu berani akan kematian. Kita juga bisa menjadi "film komedi" yang menyepelekan kematian. Atau "film horror" yang mengharapkan kematian. Atau juga "film fiksi ilmiah" yang tidak percaya akan adanya kematian.
Semua hal berada dalam kepala kita... ketika kita berfikir tembok berwarna biru, maka tembok tersebut pun akan berwarna biru.

2 komentar:

gadis mengatakan...

andaikan memang saya dapat memilih, tentu saya akan senang melihat kematian itu sebagai perpaduan antara berbagai jenis film yang telah anda sebutkan. ini bukan karen asaya tidak konsisten ataupun memang penggemar semua jenis film. saya bilang andai, andai kita senagai mahlik yang (saya penasaran siapa yang memberi sebutan manusia pada kita) manusia bisa memilih cara mati kita.tapibukankah kematianlah yang memilih kita???.
mungkin jawabannya iaya atau tidak, buat orang-orang yang memutuskan untuk memilih kematian mereka baca: bunuh diri apakah mereka bisa disebut memilih cara kematian mereka sendiri??. yang jelas kematian masih jadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi saya,mungkin bukan pada cara atau rasa sakitnya yang saya takuti tapi lebih apa yang menunggu saya setelah itu (ya, saya seseorang yang percaya ada sesuatu yang menunggu kita disana).
keep dancing!!!

Penari Jari mengatakan...

munafik juga klo saya bilang saya ga takut mati..