Senin, 15 Desember 2008

Tanpa Konsonan (Menyawer Penyair part.1/2)

remah nasi itu menari-nari di sisi piring
hanya tak melompat, saat ku mengumpat
tandai otak-otak yang telanjang
yang tak tahu cara mengakhiri puisi
menelungkup di ujung khayal
kibar-kibar kata
kata-kata hidup
dan kamu masih hidup
seperti kata-kata yang kamu ucapkan
hidup
berhuruf vokal
garuk telingaku yang gatal
aku bukan asbak bagi debu-debu rokokmu
keranjang untuk sampah pikiranmu
kloset untuk kotoran imajimu
recycle bin bagi virus intelektualitasmu
seiring hembusan nikotin dan tar
celupkan bahasa dalam ludruk cinta buta
buta-buta cinta, cinta-cinta buta
lebih baik aku bodoh
melongo di pojok kelas
menyunduti kepala rokokmu
lalu nyanyi-nyanyi sambil berserapah
menyerapahi kamu dan argumenmu
lewat lagu cinta dungu yang kuhafal
yang kulafalkan tanpa konsonan
karena vokal tak butuh konsonan untuk berarti
tak butuh konsonan untuk terucap pasti
kamu konsonan
dan aku vokal
kita hirup bahasa yang sama
tapi aku tak butuh kamu untuk ada

Selasa, 09 Desember 2008

Anak Mas

kamu meremuk dalam jasad plastik emas
tersinergi dengan bubuk-bubuk rasa
temani masa, penanda rasa, bantu asa
di kala masa-masa
saat kakiku masih muat pakai sendal nomer 33
bajuku masih dibeli di pojok bagian bocah
masih kancingi baju hingga kancing teratas
tidur di antara mama papa
dan selalu jajan di warung pak de
sambil bilang: "anak mas nya satu, pak de!"

(terinspirasi saat klik 'become fans of anakmas' di facebook)

Jumat, 21 November 2008

Menyawer Penyair

kini marlboromu sudah tersulut
terjepit di antara bibir-bibir yang mengkerut
di wajahmu yang carut marut
yang tak pernah mau disebut pengecut
cicit-mencicit cecurut

cit....ciiiiiiiit......cittttttttttttttt....

kamu kira karena kamu nyinyir
kamu jadi mirip penyair
yang tak pernah nyisir
dengan selipan mariyuana di bibir
sambil legakan dahaga dengan bir

biar tehmu sudah diseduh
kamu tetap mengaduh
telingaku jenuh
terus-terusan dengar huruf-huruf keruh
yang tak pernah berlabuh
tapi keluhannya merdu, cair dan membeku seperti lilin
bikin aku ingat nyanyiannya janis joplin
cukup ringan walau tak seenteng lagu-lagu pink

bedebam..bam...bammm.....bammmmmm....

kopiku tinggal ampas
lagumu masih tak terhempas
andai mampu kusumpal telinga ini dengan kapas
untungnya masih dapat kubernafas
mana lagu dangdutmu!?
yang biasa kau nyanyikan sambil disawer
biar kau bilang suaramu mirip cat power
tapi cat power kan gak disawer!

Senin, 03 November 2008

Loncat-Loncat Mimpi

Malam itu kami raih waktu sambil mundur. Tak terasa hingga akhirnya hujan turun dari rintik menjelma butiran-butiran besar. Untung si teman rela bagi kamar untuk semalam. Telantarkan kantuk demi omong-omong yang berputar-putar ke kanan kiri, ke depan belakang. Di awal hari yang lengket, mata pun tak mau lagi negosiasi, bulan saja tak tahan kantuk hingga dia melekuk sabit.

Tidur akhirnya, dengan selimut capek, dan alas mimpi tari-menari dengan lagu-lagu Gipsy King.

Bamboleo...bamboleo....
Di padang rumput, tiga orang bocah lompat-lompat dan menghilang di lompatan kedua belas. Awan pun pecah dan berubah merah.Tapi bukan merah senja. Hanya merah. Merahnya gincu Marilyn Monroe. Dan padang rumput berubah jadi lapangan futsal sempit penuh esmod. Yang di luarnya terparkir Benz sampai Volks Wagen.

Tangan tarik-tarik selimut ungu muda. Adegan mimpi berjalan dengan teknik editing yang sangat buruk. Loncat-locat tanpa kontinuitas. Gipsy King tetap melaju, mengajak dansa.

Baila...baila...baila me...
Ada seorang laki-laki. Kenapa dia?? Kenal saja tidak. Cuma tahu muka, tanpa tahu nama. Kadang suka papasan di jalan menuju kantin. Dia jadi pengantin pria dengan pakaian Jawa. Pelaminannya banyak daun-daun. Kelihatannya palsu. Terlalu kaku untuk jadi daun asli. Namun tak ada pengantin wanitanya. Dan si pengantin pria tadi pun raib. Berubah jadi hajatannya Dewi Persik dan Saiful Jamil dengan adat Betawi.

Seketika panggilan alam kian memaksa. Kaki begitu lihai melangkah ke toilet. Dengan mata yang kembang kempis, ritual pun dijalani, pipis. Seolah tiada jeda, bantal kembali dihantam. Dan layar mimpi mengembang lagi. Seolah mengajak terbang.

Volare....ooh... Cantare... ooh....
Stasiun yang ramai. Tapi tak ada kereta yang lewat satu pun. Di tengah relnya, ada tukang rokok yang joget-joget sambil lipsynch lagu Volare. Lalu seorang pemulung melempar sombrero yang berubah jadi topi Partai Golkar. Tiba-tiba stasiun jadi sepi. Sepi seperti channel TVRI sebelum subuh yang hanya berisi Colour Bar. Tak ada calon penumpang, pedagang, tukang karcis, bahkan aku pun tak ada di situ. Aku ada di antara mimpi dan nyata. Di antara dalam layar dan kursi bioskop. Antara panggung dan kursi penonton. Telingaku dengar suara mimpi dan deruman AC. Mataku lihat bangku-bangku karatan stasiun dan samar-samar jam dinding kamar yang menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.

Setengah sembilan!!! Dan aku janji bertemu seseorang jam sembilan. Seketika aku pun tak lagi berada di antara. Seketika lagu-lagu Gipsy King tertelan entah oleh siapa. Seketika...
aku pun bangun. Dan si empunya kamar berkata: "Lo mandi duluan deh!"

Jumat, 24 Oktober 2008

Sejenis

Tempo itu kamu masih bocah
Kalau ngobrol masih penuh ludah
Ada realita yang buat kamu gundah
Cukup buat kamu terlihat gelisah

Kemarin kamu masih bermanipulasi
Ikuti norma atur fiksi
Gairah muda debum-debum bak perkusi
Penuh obsesi

Tadi pagi kamu masih ingusan
Atur suhu atur kesan
Bukan yang bukan-bukan
Otak penuh khayalan

Tiba-tiba ada pemuda manis
Yang kamu rasai tanpa permisif
Semua orang pun mendesis
Benar kamu suka sejenis

Senin, 20 Oktober 2008

Balada Warung Remang

bertengkarlah hingga subuh melerai kita
di ujung lagu disko dangdut di pagi buta
tak butuh otak di sini
yang ada hanya dengkuran lelah bersembunyi
bungkus-bungkus mini teriak "fiesta!!!"
tapi kalah oleh kencangnya suara kereta

adakah kain-kain itu pakaian?
yang bapak beli karena berlabel donna karan
wangi parfum itu terlalu kuat untuk kalahkan bau kompos
yang bapak semprot dari botol hugo boss
sebelah anting kamu di karpet
sebelahnya lagi jatuh saat kamu joget
dan si supir mabok mendumel "kampret!"
saat kamu lari-lari hampir terpeleset

tadi malam hujan geledek seperti perang
bukan salah bapak kalau tidak pulang
terjebak pula di warung remang
ada marni...
si rambut pendek yang ngomongnya berani
ada bunga...
dengan baju merah dan tampang senga
yang itu vita...
nama aslinya siti tapi diganti biar lebih kota
yang ini mia...
asli tegal pernah jadi mahasiswa
yang paling nyantol ya aida...
kayak indo tapi berlogat sunda

bapak pun mainkan apa yang kamu sebut 'lepis'
sebelum kamu bilang ini tidak gratis
"halah...itu biasa!" kata bapak yang sok kekar
seni hidup itu seni tukar menukar
ada uang ada barang
habis tarik nafas saja harus buang nafas
biar semuanya impas!

Sabtu, 11 Oktober 2008

'...Couldn't he have just smelled an onion...?'

Satu potongan kalimat dari buku yg sebenernya udah lumayan lama gw baca. Tapi entah kenapa menurut gw ini oke banget...

"Well, if I may ask, why did the man kill his wife? In fact, why did he ever have to feel sad to shed tears? Couldn't he have just smelled an onion?"

Ini kata-katanya Hassan ke Ali di The Kite Runner. Hassan ngomentarin ceritanya Ali tentang seorang yang kalo nangis airmatanya itu berlian (kalo ga salah).

Sebuah ironi yang sederhana tapi kena. Keren ya..

Senin, 06 Oktober 2008

Huruf-Huruf Patah

Aku baca kamu
Dari pojok dunia yang tak pernah kamu tahu
Dari rasa yang tak pernah kamu rasa
Bubuhi akalku dengan akalmu
Kamu itu bulir-bulir imajiku yang basahi sebagian detikku
Bahasamu layaknya gumaman bayi yang lekukan senyumku
Menodong sembari menari riang di sela-sela modernitas dan tradisi
Sisi gila di balik kepulan asap yang belokkan khayalanku di setiap gesekan nafas
Suara-suara ganjil yang lengahkanku atas rutinitas
Pemandangan yang tak pernah tak pantas
Aku tulis kamu
Dari pangkal mimpi yang akan kudaki
Dari kotaku yang bukan kotamu
Dari serpihan alam yang kamu sudahi sebelum kamu mulai
Dengan tinta di layar kosmik
Bersama huruf-huruf patah yang kutempel dengan lem basah

Selasa, 19 Agustus 2008

Ketik REG Spasi PRIMBON

Ajaib memang!
Ini era teknologi super hebat nan heboh. Khususnya teknologi komunikasi. SMS, MMS, sampe video call seperti meruntuhkan apa arti kata 'jarak'. Ponsel (yang sebelum masa populernya di Indonesia lebih sering disebut 'telepon genggam') menjadi "artefak" paling penting bagi makhluk bernama homo sapiens saat ini. Tak heran jika orang rela kembali lagi ke rumah jika ponsel tak terbawa. Bahkan Pak Bondan-yang-sering-ngomong-"maknyuss..." itu pernah bilang, "Seperdelapan nyawa saya ada di sini (ponsel)!".



Indonesia sendiri masih menjadi sebatas 'pengguna' saja dalam dunia perponselan ini. Nokia, Siemens, SonyEricson, Samsung, bahkan Huawei pun bukan buatan dalam negeri. Walaupun begitu, jenis ponsel keluaran paling anyar, paling mutakhir, dan paling mahal pun mampu dibeli orang Indonesia!

Tapi bukan berarti orang kita tidak kreatif. Buktinya dengan kejayaan budaya ponsel ini provider jaringan selular begitu berkembang di mana-mana (meskipun yang ini tidak semuanya lokal). Selain itu, lapangan usaha baru pun terbuka lebar, yakni 'kios pulsa'!



TAPI Indonesia punya kemampuan yang lain daripada negara lain dalam memberdayakan fungsi ponsel ini. Yang saya bisa jamin 99% tidak ada di negara lain.

Mungkin memang hanya ada di Indonesia Mama Lauren berkata di iklan televisi, "Mau tau tentang peruntungan Anda? Ketik REG spasi MAMA LAUREN kirim ke 9887*!".

Yang ini memang belum terlalu Indonesia.

Tapi mungkin yang ini cuma ada di Indonesia, "Anda pasti belum menikah, tidak punya pekerjaan, hidup Anda tidak jelas... Ketik REG spasi MANJUR kirim ke 9776*!"

Yang satu ini pastinya cuma di Indonesia, "...jika Anda dan pasangan Anda menikah rejeki kalian akan seret, ...... untuk mengetahui yang pas bagi kehidupan Anda Ketik REG spasi PRIMBON kirim ke 9676*!"

Ada lagi versinya Ki Joko Bodo: Ketik REG spasi WETON…



Fenomena ini cukup lucu menurut saya. Bagaimana tidak, perangkat teknologi komunikasi yang begitu maju dan merupakan salah satu produk kapitalisme global ini aplikasinya di negara kita tidak jauh-jauh dari hal-hal klenik. Boleh saja pake ponsel terbaru nan mahal tak lupa pula dengan fashion majalah edisi terbaru dan minum kopi di Starbucks, tapi jari-jarinya sedang meloncat-loncat dengan pasti mengetikan: REG spasi PRIMBON di layar ponselnya!



Mungkin fenomena ini serupa dengan gejala yang disebutkan oleh salah satu pemikir posmodernis: "Posmodernisme adalah ketika Anda makan siang di McDonalds, mendengarkan musik reggae, dan makan malam dengan makanan lokal."



Untuk di Indonesia mungkin kita bisa menggantinya menjadi: "Posmodernisme adalah ketika Anda makan siang di McDonalds, mendengarkan musik reggae sambil asyik mendaftar di layanan SMS premium REG spasi PRIMBON.



*nomor tujuan SMS di atas ngasal, jadi bagi yang mau daftar jangan diikutin...

Selasa, 05 Agustus 2008

Ini Indonesia, Bung!


Mari berpiknik, jalan-jalan, rekreasi
Panas dan macet gagal halangi kita
Tak usah dirasa, kawan, yang penting kita punya cerita
Matahari yang angkuh buat kita berpeluh
Jangan mengeluh, nanti kita basuh
Pegangan erat pada besi karat
Jangan lengah biar selamat
Semoga tidak ditilang
Kita cuma mau senang
Tak usah berang
Karena hidup terus bersambung
Mau tak mau harus diarung
Jadi mari bergabung
Ini Indonesia, Bung!

Senin, 21 Juli 2008

Memilih Untuk Tidak Memilih

Walaupun Pemilu Presiden masih tahun depan tapi hawanya sudah terasa. Dari mulai musyawarah partai tentang siapa yang maju untuk jadi calon sampai fitur-fitur lainnya yang berhubungan dengan 'milih'.
"Jangan golput!" dikampanyekan di sana-sini. 'Apatis' menjadi satu bahasan seru di forum-forum politik, baik tv maupun media cetak. Orang yang golput dianggap tidak bertanggung jawab dan menyia-nyiakan suaranya yang seharusnya bisa digunakan untuk menentukan arah kemana bangsa ini ke depannya.

Nyatanya orang-orang yang golput tersebut pun bukan tidak memilih. Secara de facto, mereka sudah memilih.
Memilih untuk tidak memilih.
Memilih untuk tutup mata saja dari segala urusan pemerintahan bangsa ini. Memilih untuk hanya numpang tarik dan buang nafas saja di negari ini. Memilih untuk numpang sambung nyawa saja. Memilih untuk lepas dari segala tetek bengek urusan politik. Memilih untuk tidak campur tangan dalam menentukan nama pemimpin mereka kelak.
Tentu dengan konsekuensi mereka pun tidak berhak untuk mengkritik jalannya pemerintahan yang telah terpilih kelak.

Apa pun yang kita lakukan: mencoblos saat pemilu, menjadi kader partai, kampanye, atau bahkan menjadi golput pun... pada akhirnya kita tetap memilih.

Kamis, 03 Juli 2008

We Call it "Jazz" (Be Your Self Even In Your Music List!)

Dari kafe-kafe pojok yang penuh kepulan nikotin dan bergelas-gelas bir sampai ke hotel-hotel berbintang lima.

Dari piringan hitam sampai ke compact disc juga i-pod.

Dari tempat kelahirannya di New Orleans sampai ke segala titik dunia.

Dari Al Jolson, Chaka Khan, Diana Krall sampai Jamiroquai.

Dari Ermy Kulit sampai Tompi.




Yepp..."Jazz"!!!

J

A

Z

Z

Bukan merk mobil keluaran Honda itu! Tapi salah satu aliran musik yang masih sodaranya blues.



Awalnya musik ini ga begitu populer di Indonesia. Genre-nya ga menjadi mainstream seperti musik pop atau pun dangdut. Jazz punya kesan eksklusif (padahal awalnya merupakan musik yang biasa dibawakan di kafe-kafe murahan yang penuh kepulan asap rokok dan aroma bir). Jazz juga punya kesan rumit yang ga bisa dinikmati (padahal jazz ga cuma punya satu varian yang berat-heavy jazz, seperti jazz a la Diana Krall saja, ada juga light jazz ato acid jazz). Meskipun jazz tetap coba dihidupkan lewat album-albumnya Ermy Kulit, Benny Likumahua, Indra Lesmana, Iga Mawarni atau Krakatau Band, saat itu popularitasnya masih kalah dibanding dengan musik-musiknya Krisdayanti, Dewa 19, Kahitna, dan Andre Hehanusa, bahkan Rhoma Irama. Jelas, saat itu jazz ga menjadi pilihan musik mayoritas masyarakat, hanya segelintir.



Lalu, di tahun-tahun awal milenium ketiga (kalo ga salah 2004 ato 2005), jazz mulai menjadi salah satu musik yang digemari anak-anak muda. Mulai populer atau entah hanya sekedar menjadi tren agar dibilang keren. Maliq&d'Essentials dan Tompi menandai kebangkitan awal jazz sebagai musik yang juga bisa dinikmati oleh anak muda. Jazz mulai masuk menjadi mainstream di kalangan anak muda. Maka acara-acara jazz rutin pun mulai dilirik dan ga cuma didatangi kalangan yang itu-itu saja. Java Jazz, Jak Jazz, sampai acara kampus tahunan Jazz Goes To Campus di UI. Acara-acara semacam itu pun menjadi satu pilihan keren untuk didatangi (walopun kadang yang ditonton cuma Maliq ato Tompi). Jazz pun udah ga berkesan seberat dulu lagi. Ribuan anak muda pun akan menjawab dengan bangganya ketika ditanyai jenis musik favoritnya, "Jazz dong...asik gitu!".



Saya sendiri juga suka jazz. Musik-musik semacam Celebrate-nya Lake, Baby You're Mine, Laura Fygi, Selena Jones, Earth Wind and Fire, Incognito, Diana Krall, atau James Brown akrab di kuping ini dari kecil berkat jasa kakak saya yang saban pagi nyetel lagu-lagu tersebut (dari jaman kaset sampe CD). Akrab sekaligus suka, padahal waktu itu saya sendiri ga tahu musik-musik macam itu bernama "jazz" (masih kecil). Tapi jazz ga jadi satu-satunya jenis musik di daftar should-be-listened saya. Blues, soul, rock, hip hop, R n B, pop atau apapun ga pernah jadi pengecualian buat saya. Kalo saya bilang ga suka rock, tapi saya suka Come Out and Play dan Pretty Fly-nya The Offspring, Jaded atau I Don't Wanna Miss A Thing-nya Aerosmith, sampe semua lagunya Queen, hits-hitsnya Franz Ferdinand, Serieus, My Chemical Romance, dan Panic At The Disco. Kalo saya bilang ga suka hip hop, RnB, atau pop...

boong abisss!!! Jelas-jelas sangat tergila-gila dengan kakak Alicia Keys, pernah hafal lagu-lagunya Pink sampe mati-matian ngikutin ngerap-nya Eminem, Black Eyed Peas, sampe Missy Elliot, dan termehek-mehek dengan lagunya Kahitna.

Music is being so unlimited for me. With no genre limit.

Ok..balik lagi ke masalah jazz. Ya, jazz udah bukan lagi musik orang tua yang ga bisa dinikmati oleh anak-anak muda. Pertanyannya...apakah jazz di Indonesia cuma sekedar jadi tren sesaat, baik di sisi musik maupun industrinya? Hanya euphoria pasca suksesnya Maliq&d'Essentials dan Tompi yang diikuti juga oleh Ecoutez juga Parkdrive? Ga beda dengan hebohnya hip hop dan R n B di awal tahun 2000-an (Tofu, T Five, Shania, dsb) yang sekarang kok tampak sepi? Atau ska yang populer waktu saya SD oleh Tipe-X yang sekarang entah kemana?

Budaya latah bukan hal baru bagi masyarakat kita, khususnya di bidang showbiz. Apa yang lagi in saat itu (dalam arti yang masuk ke "arus utama") dianggap yang paling keren. Teringat satu peristiwa yang menurut saya sangat lucu tentang budaya latah. Mungkin kita yang lahir sekitar tahun '90 ke bawah masih ingat ketika para artis (dari yang terkenal sampai yang setengah terkenal) beramai-ramai buka warung makan tenda. Di sekitar jalan Semanggi saat itu dipenuhi oleh warung tenda milik artis. Lalu...abrakadabra!!! Seketika warung tersebut pun satu per satu menghilang...mungkin udah ga tren.hehe...

Semoga saja fenomena latah ini ga terjadi dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Jadi ga cuma in beberapa saat, trus ngilang kayak musik ska tempo itu. Semoga saja jazz di Indonesia semakin berkembang dan diapresiasi lebih dalam, tidak cuma sampai Maliq&d'Essentials titik. Nyatanya suatu perkembangan yang menyenangkan melihat kehadiran musisi-musisi jazz tersebut. Tidak cuma di major label, di antaranya SORE dan White Shoes and The Couples Company membuktikan jazz bisa berjalan pula di jalur indie.


So...let me say: Just be yourself even in your music list!! ; )

Senin, 30 Juni 2008

Belajar Menyeberang

Kadang banyak yang lupa bahwa pelajaran menyeberang merupakan salah satu pelajaran penting dalam hidup.


Ibu yang mengajariku menyeberang jalan. Melewati deru-deru mesin yang lalu lalang. Tengok kanan lalu kiri. Tengok kiri lalu kanan. Jangan lupa lambaikan tangan, isyarat agar mereka mulai injak rem. Ibu yang mengajariku menyeberang selalu menempatkanku di sisi terjauh dari arus kendaraan. Yang aku ingat ia selalu bilang bahwa motor lebih berbahaya daripada mobil. Meski saat itu aku agak bingung aku pun tumbuh menjadi seseorang yang cukup berani menyeberangi jalanan.

Ada jalan-jalan tertentu yang dalam rentang waktu bertahun-tahun selalu aku sebrangi. Dari jalan di ujung jalan rumah, depan SD-ku, banyak di sekitar SMP-ku, satu di jalan raya dekat SMA-ku, sampai jalan ke arah stasiun setiap berangkat menuju kampus. Aku seberangi jalan-jalan tersebut dengan "ilmu menyeberang" yang ibu beri. Tengok kanan lalu kiri. Tengok kiri lalu kanan. Jangan lupa lambaikan tangan. Walaupun jika sedang diburu waktu, yang aku pakai cukup "ilmu berlari".

Senin, 26 Mei 2008

Mengukur Dewasa

Kadang-kadang di penghujung hari sebelum tidur, otak saya seperti DVD yang di-rewind belasan chapter. Kejadian seharian (ga seluruhnya sih) terputar kembali di otak ini. Ada yang gambarnya sejelas DVD, ada yang runyem seperti gambar saluran spacetoon di TV rumah, ada yang siluet doang, atau malah ada yang kayak tv dimatiin. Dari kekadang-kadangan tadi seringkali banyak hal-hal yang ingin saya ulang, perbaiki, atau bahkan hapus. Pernyataan yang klise! Tapi pernyataan klise merupakan sebuah pernyataan yang ternyata bukan!? Sekitar semingguan terakhir ini banyak sekali perbincangan bersama teman yang setelah saya rewind kembali, ingin rasanya saya edit kata-kata saya. Kata-kata itu kalau tidak menyinggung, membuat saya terlihat bodoh, atau membuat enek orang yang denger. Untuk satu contoh adalah ketika saya mau bicara sesuatu (yg berunsur curhat-diplomatis-filosofis) ke seorang teman. Ketika saya baru mau memulai kata-kata, dia pun memotong dengan berkata:"iya..iya..gw ngerti..gw ngerti!", saya pun berkata:"Lu ga ngerti tau!", lalu si teman pun menjawab:"ya....gw ngomong gitu biar lu diem aja". Sebegitu rewelnya kah saya sampai-sampai si teman yg di mata saya merupakan a good listener tersebut berkata seperti itu??? Sejenak agak kecewa, tapi sedetik kemudian saya pun sadar mungkin memang saya lah yang membuatnya malas mendengar omongan saya yang ga penting.

Huwwaaaaaaaahhhhhhhh.....kadang-kadang pengen juga jadi orang yang pendiem. Tapi ga kebayang juga seharian tanpa ngungkapin semua yang tercecer di otak ini. Salah satunya ngomentarin orang. Ngometarin orang rasanya udah jadi bagian dari idup. Udah kayak refleks, udah kayak nafas yang ga disadarin (berlebihan ya). Untuk yang satu ini, saya pun punya dalih. Ngomentarin orang ato ngomongin orang jangan hanya dilihat dari sisi negatifnya saja. Anggap aja ngomentarin orang itu ibarat sebuah kuliah tentang mana yang baik dan yang buruk. hehee. Walopun dengan gitu kita sendiri udah jadi contoh nyata buat diri kita dan orang lain tentang yang buruk.

Lalu saya pun sadar umur kepala satu sebentar lagi beres buat saya. Agak kaget ternyata saya sudah sampai di fase dewasa dalam sebuah balada tarik oksigen dan buang karbondikosida ini. Saya pun mengingat-ingat tentang hal apa saja yang telah saya lakukan yang membuat saya pantas disebut dewasa. Dewasa yang dalam bahasa Inggris 'mature' bukan sekedar 'adult'. Bukan dewasa yang diukur dari tumbuhnya jenggot atopun kantong belanja bulanan yang berisi pembalut. Bukan dewasa yang diukur dari tontonan kita yang bukan kartun lagi. Dewasa yang mampu menerima dan menilai diri maupun sekitarnya dengan apa adanya, tanpa berpikir seharusnya begini atau seharusnya begitu. Tanpa berpikir andai tidak begini atau andai tidak begitu. Itu secuil definisi personal saya mengenai kata 'dewasa' yang mungkin terlihat dangkal. Tentang hal apa saja yang telah saya lakukan yang membuat saya pantas disebut dewasa, hmm....rasanya orang dewasa tidak akan menyebutkan hal apa saja yang telah ia lakukan yang membuatnya pantas disebut dewasa. xoxoxo

Dan...di sela-sela laparnya perut, tiba-tiba saja saya ingat pada rentetan kata Sapardi Djoko Damono:

"waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan"

-Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari-

Sabtu, 24 Mei 2008

Antara Freddie Mercury dan Mika

"Sejarah akan selalu terulang"

Benarkah???

Katanya kejadian-kejadian di masa lampau akan terulang lagi pada masa-masa berikutnya. Yah mungkin dengan format yang agak berbeda tentunya, disesuaikan dengan jamannya. Entahlah... Tapi kalaupun benar, yang saya harap sejarah yang terulang merupakan kejadian yang bagus-bagus saja lah. Misalnya masa ketika Indonesia berada di posisi paling baik dalam bidang ekonomi maupun politik (waktunya saya lupa tuh kapan), atau masa ketika saya menjadi anak terpintar di kelas (tampak bohong ya...), apa pun lah yang penting yang bagus-bagus. Mengenai quote di atas saya belum punya bukti kebenarannya.

Tapi...paling tidak kata-kata tersebut bisa jadi benar jika kita lihat penyanyi baru asal Inggris, MIKA. Yapp..i really love this guy even people say that he is a gay. Lagu-lagunya bermutu, sangat menghibur dan suaranya khas. Diantaranya Love Today, Grace Kelly, dan Lollypop. Gaya dan bahasa tubuhnya juga terkesan agak feminin. Yang paling penting dari semuanya adalah...penyanyi yang bernama asli Mica Penniman ini mengingatkan saya akan idola saya juga yang sudah almarhum yaitu, Freddie Mercury. Vokalis Queen yang meninggal karena mengidap AIDS. Freddie dan Mika menurut saya sangat mirip dari berbagai segi. Pertama dari segi fisik. Gaya dan bahasa tubuhnya dalam aksi panggung memiliki soul yang sama. Dengan gaya yang terkadang terkesan androgini atau pun feminin, serta meliukan tubuhnya. Mereka berdua sama-sama memiliki darah Timur Tengah, Freddie berdarah Persia (Zanzibar) sedangkan Mika berdarah Lebanon. Keduanya sama-sama merupakan imigran yang datang ke Inggris. Lalu, warna vokal mereka. Suara dan lagu-lagu yang memiliki range nada begitu beragam menjadi salah satu ciri khas mereka (contohnya Mika di lagu Grace Kelly dan Freddie di laguDon't Stop Me Now dan Bohemian Rhapsody). Intinya, mereka sama-sama memiliki musik yang good quality. Selain bernyanyi, keduanya pun sama-sama memainkan alat musik yang sama, yaitu piano.

Selain masalah musik, baik Freddie maupun Mika dibicarakan publik sebagai lelaki yang memiliki kecenderungan seksual (sex oriented) yang agak berbeda. Freddie disebut-sebut sebagai biseksual, sedangkan Mika, seperti telah saya sebut di awal, gay. Well...not really our business, actually.

Dan...persamaan terpenting yang melatarbelakangi terciptanya tulisan ini adalah.....both of them're my favorite musicians!!!

Ada persamaan, tentunya ada perbedaan. Dari segi musik, perbedaanya adalah Freddie yang bernama asli Farrokh Bulsara ini tergabung dan melahirkan musik-musiknya bersama band-nya, yaitu Queen. Sedangkan Mika menghadirkan musiknya sebagai seorang penyanyi solo. Di samping sebagian jenis musik yang agak berbeda (Freddie cenderung rock dan Mika agak-agak nge-disco campur opera). Di luar masalah musik, fakta yang ada adalah dalam bahasa Inggris kita akan menuliskan "Freddie was singing" untuk Freddie dan "Mika is singing" untuk Mika. Maksudnya, Freddie sudah almarhum sedangkan Mika masih hidup. Semasa hidupnya Freddie mengidap AIDS yang menyebabkan penyakit pernafasan yang membawanya ke kematian, dan semoga saja sejarah yang buruk ini tidak akan terulang.

"I try to be like Grace Kelly

But all her looks were too sad

So I try a little Freddie

Ive gone identity mad!"

(Grace Kelly - Mika)

Mati dan Film

Ingin rasanya kubilang: "Akhirnya datang juga!"
Ketika waktu habis dan nafas tak dapat dibeli
Ketika jantung lelah berdetak
Ketika raga menyerah pada gravitasi
Ketika darah enggan mengalir
dan nadi hanyalah tonjolan kaku di pergelangan tangan dan pangkal leher
Karena mungkin sebagian dari kita hanya mampu berkata
"Tunggu dulu!"
Ketika semua itu datang.....

Saya bukan perenung kehidupan yang handal ataupun filsuf yang kian berpikir tentang hidup dan mati. Hanya manusia yang memang mau tak mau harus tahu tentang mati. Coba berharap dapat hidup tenang dan senang, tanpa buat orang berang, sambil berdoa agar tidak ada perang.
Ironis memang jika kita lihat dalam film-film. Setiap jenis film yang berbeda menyajikan kematian dalam perspektif yang berbeda pula. Dalam film drama, satu orang yang sekarat saja akan begitu mati-matian mempertahankan hidupnya sambil dikelilingi orang-orang yang tidak menginginkan kematiannya. Dalam film action, peluru melayang kemana-mana menembus tubuh-tubuh orang dan membunuhnya begitu saja. Dalam film komedi, kematian pun dapat menjadi bahan lelucon yang merangsang tawa orang-orang. Dalam film horror, kematian ditampilkan sebagai awal dari kehidupan yang lebih bebas, yaitu bisa menembus dinding dan menakut-nakuti orang. Sedangkan dalam film fiksi ilmiah, kematian ditampilkan sebagai sesuatu yang nihil dan absurd.
Begitulah cara film menempatkan kematian. Begitu juga dengan kita. Kita hanya tinggal memilih dari sisi mana akan memandang kematian. Kita bisa menjadi "film drama" yang takut akan kematian. Atau "film action" yang begitu berani akan kematian. Kita juga bisa menjadi "film komedi" yang menyepelekan kematian. Atau "film horror" yang mengharapkan kematian. Atau juga "film fiksi ilmiah" yang tidak percaya akan adanya kematian.
Semua hal berada dalam kepala kita... ketika kita berfikir tembok berwarna biru, maka tembok tersebut pun akan berwarna biru.