Rabu, 06 Agustus 2014

The villains are your average neighbors

Perkenalkan dua penjahat favorit saya dari (currently number 1 serial based on IMDB) Breaking Bad: Gustavo Fring dan Lydia Rodarte-Quayle. Keduanya merupakan tangan-tangan “atas” dalam kartel sabu di New Mexico, AS. Keduanya sama-sama not your typical villains. Keduanya adalah orang-orang yang tampak ngantor 9-5 setelah sebelumnya mengantar anak-anak ke sekolah, yang di jalan pulang mampir sebentar ke supermarket membeli isi kulkas yang sudah habis, dan sampai rumah untuk kembali berebut remote tv bersama keluarga.

Gustavo Fring
Gustavo Fring adalah Colonel Sanders versi Latin, KFC-nya bernama Los Pollos Hermanos (bahasa Spanyolnya The Brothers Chickens). Los Pollos Hermanos ini yang jadi salah satu kedok dari drug cartel-nya (sabunya diangkut di dalam adonan ayam). Gaya pakaiannya bankir dan cara ngomongnya seperti guru (sopannya super). Gus juga dekat dengan DEA (BNN-nya Amrik, badan pembasmi narkoba) dengan menjadi penyokong dana untuk kegiatan sosialnya. Cara kerja Gus sangat apik, total, dan dingin. Dia tipe businessman yang prinsipnya “We should do the best or we do nothing”.


Bisa dibilang Gus sangat berperan dalam proses metamorfosis karakter dan cara kerja Walter White (koki sabu yang merupakan tokoh utamanya). "You are a wealthy man now. One must learn to be rich. To be poor, anyone can manage”, salah satu petuahnya buat Walt. Yang paling gila menurut saya adalah ekspresinya yang selalu datar dan caranya senyum tampak tulus tapi seolah-olah bilang “I can kill you anytime I want”. Dan memang anytime he wants, Gus dapat membunuh siapa pun yang menurutnya pantas mati demi membersihkan jalur bisnis sabunya. "If you try to interfere, this becomes a much simpler matter. I will kill your wife. I will kill your son. I will kill your infant daughter." Lagi-lagi ini diucapkan untuk Walt si Heisenberg penemu the pure blue-meth.


Lydia Rodarte-Quayle
Lydia adalah eksekutif yang bisa kita lihat lagi mimpin rapat di Sudirman dan berlalu-lalang dengan kacamata hitam untuk numpang lewat beli kopi decaf di Plaza Senayan. Tapi siapa sangka ternyata bahan utama sabu-sabu yang beredar di Jalan Biak situ disuplai olehnya. Nama dan tampilannya seperti eksekutif perusahaan besar yang workaholic yang mendapatkan penghargaan Outstanding Leadership in Business. Yang memang benar. Akan tetapi ia juga berperan sebagai pemasok methylamine untuk Gustavo Fring yang akhirnya selepas kematian Gus juga turut mendistribusikan blue meth, bahkan sampai ke luar negeri.


Kebalikannya Gus yang supertenang, Lydia adalah tipe yang bisa kena serangan stroke kapan saja. terlampau tegang dan selalu gugup. Karakter yang merugikan bagi seorang kriminal, sekaligus membuatnya semakin berbahaya (adegan pertama kemunculannya saja ketika Lydia menyerahkan daftar orang-orang Gus yang akan dia bunuh karena kewaspadaannya yang jauh mengalahkan kehati-hatiannya). Baru muncul di season finale, Lydia memang satu-satunya karakter perempuan di lingkaran drug cartel (selama 4 season semuanya laki-laki). Meskipun begitu, penampilannya bukan sekadar Smurfette Principle (satu-satunya karakter cewek di antara semua karakter cowok). Hal ini dijelaskan lewat percakapan Mike dengan Jesse, "And now you're being sexist. Trust me, this woman deserves to die as much as any man I've ever met." Di balik pembawaannya yang kaku, ambisi Lydia dalam membesarkan blue-meth tak bisa disepelekan. Seperti ucapannya saat nyawanya terancam dan berniat menukarnya dengan pasokan bahan tak terbatas, "Who said anything about barrels? I'm talking about an ocean of the stuff."


Sumber foto:
http://hushcomics.com/
http://carboncostume.com/

Kamis, 10 Juli 2014

Pintu

Janus adalah dewa dengan dua wajah. Ia melambangkan awal, transisi, peralihan, di antara. Dalam mitos asalnya di Romawi, ia kerap dihubungkan dengan awal dan akhir dari sebuah konflik, perang dan damai. Oleh karena itu juga, kita menyebut bulan paling awal dalam satu tahun dengan 'Januari'. Kata 'lanus' dalam Latin yang berarti 'pintu' juga kabarnya berakar dari sini.

Janus, lebih dari sekadar papan persegi, besi, baja, atau bata pelindung suatu ruang; namun ia juga lah yang memegang kuasa untuk membuka atau menutupnya. Semacam penjaga gerbang dengan segala pertimbangan politisnya. Tak hanya bangsa Romawi yang menanam magis dalam konsep pintu, ménshén (semoga nggak salah sebut) adalah dewa pintu bagi bangsa Cina. Ialah yang memberhentikan roh-roh jahat hanya sampai di depan pintu. Di Indonesia sendiri, negeri penuh pamali ini, juga punya magi yang berhubungan dengan pintu. Siapa sih yang tidak familiar dengan nasihat "Jangan menghalangi pintu nanti seret jodo'!" atau "Jangan duduk di depan pintu nanti sakit".

Begitulah kira-kira pintu di kepala saya. Ia punya keluasan di baliknya, tepat ketika kuncinya diputar, password diterima, atau kartu magnetik disentuhkan. Lebih dari sekadar konsep keamanan dan arsitektur. Kurang lebih, sadar nggak sadar, ini yang membuat saya bikin proyek iseng dua tahun yang lalu, Proyek Pintu. Sebuah tumblr-based blog yang isinya foto-foto pintu (menarik atau nggak menarik) di mana saja saya melihat pintu dan tertarik buat ambil fotonya. Beberapa foto juga ada hasil jepret dari beberapa teman (jadi kalau ada yang mau sumbang foto pintu, dengan senang hati). Jarang di-update sih. Nah, ini foto pintu pertama yang diunggah pada tahun 2012.



Suatu hari, teman saya Maesy pernah tanya soal Proyek Pintu. Saya tiga perempat bercanda menjawab (bukan verbatim), "Proyeknya bakal berenti kalau udah nemu pintu surga".

Senin, 23 Juni 2014

Pertanyaan-Pertanyaan

Apakah takut akan kesibukan sama dengan malas? Apakah salah takmau apa-apa dan taktahu mau apa? Kenapa saya lama-lama kecanduan baca wikihow? Oh ya, kenapa tidak ada wikiwhy? Apakah tidak adanya wikiwhy menjelaskan bahwa alasan itu personal sehingga takbisa dibuat standarnya? Kapan obsessive-around-nail-skin-picking ini berakhir? Satu lagi, mengapa bulan Juni terasa seperti laba-laba berlengan satu yang menyulam sarang taktampak?

Jumat, 06 Juni 2014

Sendu di Mangkuk

Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Habis dan berlalu atau sekadar menggenang tak jauh. Tak peduli seberapa banyak tawa yang kausiram dan kata-kata kasar yang kauselundupkan lewat cotton bud lembut ke telinga. Pada akhirnya, mata akan selalu menghianati kata, jeda lebih berteriak, dan hening melolong tanpa akhir.

Sudah lama ia tak kehilangan nafsu makannya, sampai malam itu. Ketika sendu mengunyah lapar sampai habis. Menyisakan mangkuk dengan makanan yang hanya dimakan seperempatnya. Kesenduan selalu punya caranya sendiri untuk mengalir. Pada jumat malam itu, ia memilih untuk mengalir ke mangkuk makan.

Pintu yang sendu di kota tua Semarang

Senin, 05 Mei 2014

We're simply never that free


Transcendence dan Her adalah dua film terbaru yang bercerita tentang pengaruh teknologi dalam hidup manusia. Dua film tersebut sama-sama mereka-reka dunia masa depan (yang tampaknya sudah tidak terlalu jauh lagi) di mana artificial intelligence (AI) mencapai tingkatan yang semakin menyamai natural intelligence. Bahkan bukan lagi sekadar kecerdasan otak, AI tersebut memiliki perasaan. Mereka punya hati, punya pacar, punya teman, punya emosi. Banyak yang menganggap film-film semacam ini sebagai peringatan terhadap perkembangan teknologi yang bisa menjadi bumerang bagi manusia. Untuk konteks hari ini, teknologi yang kerap dianggap sebagai bumerang adalah internet.

Individualisme yang semakin tinggi, narsisme yang makin punya panggung (#selfie!), dan kedangkalan informasi adalah beberapa poin umum tentang akibat buruk penggunaan internet yang sering dibahas. Semuanya mengarah pada akibat yang personal dan tidak struktural. Masalah manusianya, bukan teknologinya. Teknologi nggak maksa manusia buat nunduk terus di meja makan waktu bersama teman, bukan teknologi juga yang mengharuskan kita sering-sering foto muka sendiri, dan teknologi nggak membakar toko buku (malah menambah pilihan untuk download gratis e-book). Ketiga masalah tersebut adalah masalah pilihan. Kita bisa pilih untuk mengobrol daripada maenin smartphone (padahal di smartphone juga bisa aja lagi ngobrol), kita juga bisa pilih untuk buka buku daripada buka Path.

Ironisnya, justru permasalahan lebih penting yang dibawa teknologi informasi sekarang ini datang bersama kenyamanan-kenyamanan teknologi yang kita anggap positif dan membantu. Search engine dengan personalized search result-nya adalah salah satunya. Kita mencari apa pun di Google. Yang kita cari dan yang teman kita cari akan berbeda, algoritma Google di setiap browser pun akan berbeda. Akhirnya, ketika kebetulan kita dan teman kita melakukan pencarian yang persis sama, hasilnya belum tentu sama. Segala keyword yang kita ketik sebelum tekan enter pun direkam, didata, dikategorikan. Begitu juga segala aktivitas di sosial media. Data ini begitu empuk. Buat siapa? Buat para penjual iklan sampai buat pemerintahan yang terlalu insecure kayak AS dan NSA-nya.

Internet yang digembar-gemborkan menjadi salah satu penyokong kebebasan berekspresi dalam masyarakat pun nyatanya di belahan dunia lain sudah berhasil dijadikan alat pengokoh suatu rezim otoriter. Internet yang memang mampu menggratiskan pengetahuan, namun di sisi lain, sensor juga bisa dilakukan terhadap pengetahuan apa saja yang bisa didapat. Inilah dampak dari teknologi yang lebih jelas. Bukan narsisme berlebih yang bisa mengekang kebebasan berekspresi suatu masyarakat. Bukan juga ribuan anak muda #selfie yang memata-matai aktivitas kita. Internet nggak jauh beda sama poster. Oleh suatu kelompok anak muda poster bisa digunakan sebagai media untuk berekspresi. Namun, di saat yang sama, penguasa juga bisa menggunakan poster untuk mengumumkan peraturan baru bahwa poster hanya bisa digunakan untuk mendukung pemerintahan. It’s not a gun that kills people, it people kill people. But who hold the power to rule the use of a gun? Masyarakatnya sendirikah? Rezim otoriter? Pemerintah prodemokrasi yang overinsecure? Prabowo?

Ini masalah internet yang lebih mengancam. Bukan #selfie, generasi narsis, generasi too much information, or whatever those enlightened people ever said.