Jumat, 20 November 2009

Balada Warung Remang on location

Perjalanan saya ke sebuah lokalisasi di Tanjung Priok seolah melempar ingatan saya ke satu tahun yang lalu. Melempar saya ke tulisan yang saya buat dengan judul Balada Warung Remang.

Tulisan itu saya buat tanpa pengalaman langsung apa pun. Hanya meraba-raba dari berbagai gambaran umum yang saya dapat. Perasaan saya saat menuliskannya pun datar-datar saja, malah cenderung konyol. Akhirnya setelah sebuah kunjungan langsung dalam rangka field trip masalah penjualan anak dan perempuan, saya pun mendapat sebagian gambaran nyata mengenai kehidupan di lokalisasi.

Kunjungan kami (saya dan teman-teman dalam sebuah kursus singkat tentang feminisme) sebenarnya ke sebuah yayasan pendampingan anak dan perempuan. Awalnya kami ingin berbincang-bincang dengan beberapa anak di kantor yayasan, namun karena kedatangan kami yang terlalu sore keadaan pun tidak mendukung. Akhirnya sebagai solusi dadakan, hanya beberapa dari kami lah yang mendapatkan kesempatan untuk ikut ke lokasi. Saya berdua dengan teman saya pergi ke lokasi RM bersama pendamping dari yayasan, teman saya yang lain ke lokasi lainnya lagi di wilayah yang sama.

Kami naik motor bertiga (ya, bertiga!) dalam keadaan gerimis. Hingga akhirnya sampai di lokasi RM, kami pun masuk ke gang-gang kecil. Nah di gang kecil itulah terletak kafe-kafe (istilah 'kafe' mereka gunakan untuk menyebut yang mungkin kita sebut 'warung remang'), berupa tempat makan yang di dalamnya lagi terletak kamar-kamar seperti di kos-kosan. Di kamar-kamar inilah para perempuan yang 'dijual' tersebut tinggal sekaligus menyelesaikan pekerjaannya tiap malam. Kamarnya berukuran sedang berisi satu tempat tidur ukuran double dan satu meja rias.

Beruntung pendamping saya dari yayasan memiliki akses cukup luas di lokasi tersebut hingga saya dan teman saya pun dapat masuk ke sebuah kamar untuk berbincang-bincang dengan seorang pekerja. Sayangnya kami datang terlalu sore sehingga ketika kami masuk kamarnya, L si pemilik kamar sedang berias siap-siap untuk melayani tamu. Namun L begitu ramahnya dan kami mendapat sambutan yang cukup hangat (teh botoh dan rokok). Mengikuti saran dari fasilitator kami, yaitu untuk tidak memberikan pertanyaan-pertanyaan yang intimidatif dan berat, kami pun mengobrol-ngobrol layaknya orang yang baru berkenalan.Dikarenakan waktu yang terlalu sempit, agak menyesal memang pertanyaan-pertanyaan penting pun tidak sempat tersampaikan.

L berumur enam belas tahun. Sudah setahun bekerja di tempat tersebut karena diajak oleh kerabatnya sendiri yang dulunya juga pernah bekerja di situ. Perlu diketahui ia kerja di situ karena pekerjaan sebelumnya bergaji sangat kecil. Tidak perlu tanyakan masalah sekolah, biaya masuk SMA terlalu mahal bagi keluarga L saat itu.

Selebihnya mungkin serupa dengan berbagai kasus prostitusi yang mungkin pernah kita tahu. Satu kata yang menggambarkan perasaan saya saat itu: Miris.

Bukan hanya karena L diprostitusikan dalam usia masih semuda itu. Tapi juga karena ternyata ketika pendamping kami membuka-buka sebuah buku di samping tempat tidurnya, ia langsung merebutnya sambil berkata "ah jangan dibaca! ini mah keluhan semua isinya". Ternyata L menuliskan keluhannya di sebuah buku, entah dalam bentuk apa. Terlihat bahwa meskipun ia cukup ceria saat itu, L tidak suka melakukan pekerjaannya. Kenyataan yang cukup menyegarkan sebenarnya. Paling tidak ia mampu melampiaskan keluhannya.

Akhirnya kami pun pamit dan berterimakasih karena waktu dandannya yang kami curi untuk ngobrol-ngobrol. Saya pulang dengan sejuta "wow" sana dan "wow" sini karena fakta-fakta di lokasi yang terlalu banyak untuk saya jelaskan saat ini. Saya pun berakhir pada kesimpulan kecil, yaitu jangan pernah menutup mata pada masalah-masalah yang ada di sekitar kita, terutama masalah-masalah kemanusiaan.

"bertengkarlah hingga subuh melerai kita
di ujung lagu disko dangdut di pagi buta"
-Balada Warung Remang

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kembang Api dan Biji Kopi

Aku ingin meluncur pesat ke langit
dan "duarrrrrrrrrr" membuncah warna-warni, kembang api
Aku ingin larut dalam pekat melebur
mendidih di tengah cangkir sebelum diseruput, biji kopi


Si kembang api menari-nari
di angkasa berkabaret
atau hanya bergoyang dombret!?
Juga bernyanyi!
Berirama postpunk
atau mungkin Dangdut Kerawang!?

Si biji kopi tak mau kalah
ia pun turut berpolah
Tariannya berputar-putar-putar
ikuti pusaran seiring keluhan gitar
Mungkin kamu pikir si kopi bermusik gothic
padahal tidak, musiknya romantik tanpa lirik

Malam ini pun...
Aku hanya duduk tontoni opera si kembang api
sembari seruput-seruput kecil lewat ujung cangkir kopi

Senin, 12 Oktober 2009

Kita Butuh Bank Kaum Miskin

Miris sekali rasanya membaca berita-berita mengenai pembagian zakat yang ricuh di berbagai daerah nusantara sampai menelan korban jiwa (dari data sebagian besar perempuan). Sebabnya adalah para mustahik (orang yang berhak diberi zakat) yang sedang mengantre ricuh saling mendahului untuk mendapatkan zakat sehingga terjadi kesesakan dan sebagian orang terinjak-injak. Hal ini dikarenakan massa yang datang membludak, melebihi perkiraan si pemberi zakat dan kapasitas tempat pemberian zakat.

Negara kita memang menampung begitu banyak kaum miskin. Bahkan saking banyaknya, istilah 'miskin' pun cukup sering diperdebatkan mengenai siapa dan apa saja karakteristiknya sehingga seseorang dapat dikatakan 'miskin'. Dalam Islam, ada perbedaan antara yang disebut dengan 'miskin' dan 'fakir miskin'. Istilah 'miskin' artinya merujuk pada 'orang yang memiliki pekerjaan, akan tetapi pekerjaannya tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya'. Sedangkan 'fakir miskin' digunakan bagi 'orang yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya'.

Kewajiban memberi zakat maupun sedekah bagi orang-orang ini pun memang sudah sewajarnya. Akan tetapi umumnya bantuan semacam ini tidaklah kontinuitas. Karena istilahnya 'hanya memberi ikan, bukan pancingannya'. Jika kita memberi ikan, kita hanya membantu pada saat itu saja. Betul memang kita membantu mengurangi kesusahannya, tapi bukankah setelah bantuan dari kita habis orang tersebut akan tetap menghadapi kesusahan yang sama? Bantuan yang didapat orang-orang tersebut tidaklah terus-menerus. Paling hanya saat bulan puasa, menjelang Idul Fitri, atau Idul Adha. Jadi selain di waktu-waktu tersebut, orang-orang 'miskin' dan 'fakir miskin' itu pun akan tetap susah.

Mungkin sudah saatnya para orang kaya dermawan, seperti Haji Soikhon di Pasuruan acara pembagian zakatnya menelan korban sebanyak 21 jiwa, mengubah sistem bantuannya. Jadi tidak lagi sekedar memberi bantuan yang 'menyuapi', tapi juga memberi bantuan yang bersifat kontinuitas yang disertai dengan pengarahan dalam menswadayakan masyarakat miskin tersebut untuk melakukan usaha yang berkesinambungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barangkali kita harus berkaca pada Bangladesh, salah satu negara miskin dari negara dunia ketiga. Muhammad Yunus, salah seorang dekan fakultas ekonomi di universitas sana, gerah melihat keadaan kaum miskin di sekitarnya yang sangat mengenaskan begitu tidak sesuai dengan teori-teori ekonomi yang telah ia pelajari dan ia ajarkan kepada mahasiswa-mahasiswanya. Lantas ia pun berinisiatif untuk membuat sebuah lembaga (bank) yang khusus memberikan pinjaman-pinjaman kecil sebagai modal usaha. Pinjaman ini dikenai bunga yang sangat kecil dan harus dikembalikan dalam jangak waktu tertentu yang tidak memberatkan.

Sistem awal bank yang kemudian disebut dengan Grameen Bank ini cukup unik. Grameen Bank memfokuskan pinjamannya kepada kaum perempuan (sampai saat ini anggota Grameen lebih dari 90% adalah perempuan). Hal ini dikarenakan nasabah bank-bank di Bangladesh umumnya didominasi oleh kaum lelaki. Kaum perempuan tidak terlalu dianggap. Awalnya, Yunus pun mendapatkan pandangan pesimis dari berbagai pihak mengenai tidak akan dikembalikannya pinjaman-pinjaman tersebut. Namun pada akhirnya, Grameen Bank dapat membuktikan bahwa pinjmana-pinjaman tersebut 98% dikembalikan. Malahan pinjaman-pinjaman besar yang diberikan bank-bank lain pada orang-orang kaya lah yang sering tidak dikembalikan.

Yunus membuktikan bahwa kaum miskin (khususnya perempuan) memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap pinjamannya. Mereka menggunakan uang pinjaman tersebut untuk meneruskan usahanya atau pun memulai usahanya. Hebatnya dampak Grameen Bank yang berdiri tahun 1970-an ini terasa saat hampir semua anggotanya meningkat kehidupan ekonominya, sampai mampu memperbaiki rumahnya yang tidak layak. Ia membuktikan bahwa kaum miskin akan merasa memiliki martabat ketika tidak hanya diberi sedekah, tapi juga kepercayaan dalam bentuk pinjaman. Kini Grameen Bank telah berkembang hingga ke berbagai negara dari Amerika Serikat sampai Malaysia. Ia pun menyebut Grameen Bank sebagai 'bank kaum miskin'. Muhammad Yunus, si pendiri Grameen, mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006.

Mungkin hal inilah yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia. Kita sepatutunya mengangkat martabat derajat kaum miskin dengan memberinya kesempatan melakukan usaha. Bukan sekedar memberinya sedekah yang dilepas begitu saja. Seharusnya ada bank semacam Grameen di Indonesia yang fokus terhadap kaum miskin dan juga perempuan (semua yang datang ke pembagian zakat di Pasuruan adalah perempuan). Bukan sekedar bank yang memberikan pinjaman kepada para konglomerat yang mau memperluas usahanya yang akhirnya tidak pernah lagi mengembalikan uang pinjamannya.


Referensi:
- "Bank Kaum Miskin", Muhammad Yunus (thanks to inal yang udah minjemin bukunya ;P)

Sabtu, 03 Oktober 2009

Movie Trailer

It’s a movie…
But I just can watch the trailer only. I will never ever watch the movie completely.
W-h-y?
1. The movie never moves on from the ‘coming soon’ panel
2. The tickets was sold out, or worst… it never been sold!
3. The movie was showed on limited screen and it was deserved for invitation only
4. The movie didn’t get the license to be showed
5. The locket was located in a different planet, so I coudn't get the ticket

So, forever it will always just be a trailer.
t-r-a-i-l-e-r.




BUKAN TRAILER YANG INI ;P

Kamis, 24 September 2009

Why So Serious?

Should I jump to the next one million years
or maybe I just simply step to some different frequencies?
Where the technology of these civilization got its scary though excellent record!

Jump
Jump
Jump


step-step-step


to
the
age...


When all the diseases will be cureless. Cz it's already diseaseless.
When all the demon has no angel. Cz it's already demonless.
When all the pain no need to be healed. Cz it's already painless.
And the first thing of all, I will castrate all the feelings that seems will killing.

Oh that's why i do love joker!
Why so serious?