Di luar semua pelajaran yang diwajibkan untuk dipelajari umat manusia dari jaman kompor batu sampai jaman impor sapu, di atas aljabar di atas biologi, seharusnya adalah....
pelajaran kecewa.
Terlalu banyak hal yang mengecewakan di atas bumi. Bangun saja dari tidur, nggak perlu beranjak dari kasur, cukup buka timeline twitter dari smartphone yang nggak pernah nganggur, kekecewaan siap meluncur. Bangun ke dapur, telurnya direbus bukan diceplok seperti kesukaanmu. Kecewa menyamar di atas piring. Mengejar interview, lari keluar, jegat taxi penuh semangat, jalanan macet tanpa celah. Kecewa di atas aspal.
Semua hal di atas bumi ini punya bakat untuk mengecewakan. Dan manusia, lebih dari apapun entah mengapa adalah makhluk paling berbakat dalam hal mengecewakan sekaligus dikecewakan. Siap-kecewa pun menjadi keahlian penting yang patut diasah dan di-maintain seperti akun-akun sosmed campaign. Kecewa itu kan buntutnya harapan. Jadi ya kuncinya jangan salah naro harapan. Jangan naro di ‘tempat’ yang paling berpontensi ngecewain. Berhubung manusia itu makhluk yang menurut saya paling mengecewakan, yah jangan lah banyak-banyak naro harapan sama mereka. Kalopun iyah, milih-milih lah.
Mending sebelum kecewa lari ke indomart atau alfamart terdekat, cari kulkas walls, ambil buavita smoothies rasa stroberi. Atau nyalain internet, buka youtube, dan cari channel karaoke.
Jumat, 03 Mei 2013
Sabtu, 19 Januari 2013
Jika Pertemanan itu Scrabble, Kita adalah Huruf-Hurufnya
Pertemanan itu mirip bermain scrabble.
Kita adalah huruf-huruf yang nantinya diformasikan menjadi kata. Dengan beragam kemungkinan kombinasi,
makna, sampai rasa. Potongan puisi Afrizal Malna berikut bisa menggambarkan
maksud saya dengan keren.
nabi. Kalau n diganti dengan b, dia menjadi babi. tidak nabi. kalau b diganti dengan n, dia menjadi nani. tidak babi. black box. kalau b diganti dengan p, dia menjadi napi. tidak nani. kalau n diganti r , dia menjadi rabi. black box. tidak napi. kalau b diganti dengan s, dia menjadi nasi (“Black Box”).
Bagaimana perubahan 1
huruf pada kombinasi kata bisa begitu brutal mengubah arti bahkan rasa. Bayangkan,
perbedaan arti dan rasa yang kita dapat dari kata ‘nabi’ dan ‘babi’, ‘napi’ dan
‘nasi’. Begitupun pada kombinasi pertemanan.
Ada hal-hal yang sangat asik dibicarakan dengan (kombinasi)
teman tertentu. Ketika ditambah 1 personil lain, pembicaraan itu bisa jadi less
fun dan nggak semenarik itu lagi. Bermain ular tangga bersama A, B,
dan, C bisa jadi sangat seru. Tapi jika ditambah D, permainan ular tangga tidak
seseru itu lagi. Dengan kombinasi A, B, C, dan D, permainan yang lebih seru
dilakukan adalah congklak (?).
Seperti ‘nabi’ dan ‘babi’. Perbedaan 1 kombinasi saja bisa
mengubah arti dan rasa. Semuanya sama-sama punya arti, sama-sama punya rasa.
Arti bisa sama, rasa bisa beda. Rasa bisa sama, arti bisa beda. Atau,
beda arti maupun rasa. Yang pasti, semuanya berarti, artinya bisa baik bisa buruk, rasanya bisa enak bisa tidak. Silahkan dipilih-pilih untuk kesehatan
mental atau dialami semua buat perkaya diri.
![]() |
| Oke, gambar ini memang nggak berhubungan sama tulisannya. Diambil dari salah satu karya yang ditampilkan di pameran Urban Art Salihara |
Selasa, 11 Desember 2012
If Jakarta had A Tumor, We’d Call it 'Malls'
Yang mau tinggal di Jakarta itu
gila.
Termasuk saya. Hampir setahun
sudah saya ngekos dan beraktivitas di Jakarta. Di luar itu, bertahun-tahun sebelumnya
pun saya menjadi komuter setia yang pagi dan malam dibawa kereta untuk
melakukan ini-itu di ibukota. Rumah saya yang berada di kota sebelah Jakarta
yang banyak angkotnya balapan sama hujan itu pun akhirnya cuma jadi tempat saya
meringkuk lelah di kasur dan istirahat di akhir pekan. Bisa dipastikan,
sebagian besar waktu produktif saya berlangsung di Jakarta. Terpaksa. Karena
ngutip seorang following favorit saya di twitter, @mumualoha, “Jakarta itu
bukan pilihan. Tapi ketiadaan pilihan”.
“Jakarta itu seperti istana disfungsi yang dibangun di antara septic
tank.”
Orang-orang ke Jakarta untuk
melakukan hal yang dia inginkan, mendapatkan yang dia mau, mengejar mimpinya.
Dengan sedih hati, sayangnya, begitu banyak hal hanya bisa dilakukan di
Jakarta. Jelas saja, Jakarta yang sudah ibukota pun sekaligus jadi kota pusat
berbagai bidang. Mau kerja di media yang begini, adanya baru di Jakarta. Mau
sekolah di sekolah yang anu dengan jurusan anu, adanya hanya di Jakarta. Jadi,
kalau disebut “Jakarta itu ketiadaan pilihan”, yah memang persis begitu. Karena
berbagai pilihan numpuknya di Jakarta. Sehingga orang-orang yang mau A sampai Z
pun memutuskan untuk berbondong-bondong menjadi bagian dari kota asimetris ini,
baik yang menetap maupun komuter. Bayangkan, teman saya yang komuter bisa
menghabiskan waktu 3 jam untuk berangkat dan 3 jam untuk pulang, jadi total waktu
di jalan 6 jam, jadi dia habiskan hidupnya ¼ hari di jalan. Seperti mengamalkan
secara harfiah kalimat “hidup itu perjalanan”. Itu baru yang komuter. Teman
saya yang memang tinggal di Jakarta dan kerja di Jakarta pun nasibnya nggak
jauh beda dan mengamalkan prinsip “hidup itu perjalanan” setiap harinya.
“Penuh twit rasa macet, tambal ban, dan jawaban “no, thanks””
Semingguan yang lalu, saya
ngobrol dengan seorang teman, sebut saja Afra (memang nama sebenarnya). Intinya,
dia bilang orang yang setiap hari naik mobil di Jakarta itu masokis karena bawa
mobil di Jakarta itu superstressful. Sementara
seorang teman saya yang sehari-harinya bawa mobil bilang pilih naik mobil
pribadi karena transportasi umum yang ada nggak nyaman dan aman. Jika
transportasinya nyaman dan aman, dia mau transportasi umum. Nah, pas ngobrol
itu, kata temen saya yang supertaurus ini :p, justru demand terhadap
transportasi umum harus datang dan dimulai dari kita biar fasilitasnya nanti
dibuat nyaman dan aman. Caranya, yah pakai transportasi umum yang sekarang ada.
Nantinya, ketika pengguna transportasi umum meningkat, si yang berwajib
ngurusin hal ini mau tidak mau akan menyediakannya. Sayang disayang semilyar sayang,
orang yang ingin nyaman dan aman-aman saja ke tempat tujuan dengan full AC dan
sambil ngetweet basi “macet gila” jauh-jauh lebih banyak daripada orang yang
rela pakai fasilitas umum ngehe untuk naikin demand.
“If Jakarta had a tumor, we’d call it malls”
Berapa sih jumlah mall yang
dibutuhin suatu kota? Ada nggak sih yang bangga karena Jakarta disebut-sebut
sebagai kota dengan mall terbanyak? Mall itu mungkin kayak darah putih.
Dibutuhin tubuh, tapi kalau kebanyakan jadi penyakit. Dan kalau mall itu tumor
atau kanker, Jakarta menderita kanker stadium 4. Alih-alih mall, ini kota butuh
ruang publik lebih banyak: taman, alun-alun, apalah. Kalau kata sebuah gerakan Park(ing) Day Reclaim Your City! yang mendunia sejak
2005, “..how public space is created and
allocated, and to improve the quality of urban human habitat..”.
Kesimpulannya, sebanyak apapun mall yang dibangun nggak akan mampu meningkatkan
kualitas warganya. Jadi, sudah saatnya kota ini bilang “enough is enough” buat pembangunan mall kalau nggak mau kesehatan
jiwa warganya semakin menurun.
| Acara Park(ing) Day 2012 di Jakarta sebagai simbol "Reclaim Your City!" 'mencaplok' private space untuk dijadikan 'public space' |
Doa saya sih semoga desentralisasi
berbagai bidang bisa terjadi. Jadi, nggak semua-mua hal harus terjadi di
Jakarta. Menurut saya, industri yang mungkin banget untuk eksodus dari Jakarta
itu sebenarnya banyak, salah satunya online/digital industry. Mungkin nantinya
bisa ada semacam Silicon Valley versi Indonesia? Begitu juga dengan
bidang-bidang lain yang nantinya bisa dipusatkan di daerah tertentu.
Pasti nggak mudah sih, tapi ngarep boleh lah.
Sehingga suatu saat nanti,
Jakarta bukan lagi pusat orang-orang mengejar mimpinya.
Minggu, 09 September 2012
Reaffirming Young People Roles
By the end of 2011, I and a friend wrote an article for ARROW's for Change bulletin volume 17. ARROW is Asian-Pacific Resource & Research Centre for Women. The article was based on our project last year about Sexual and Reproductive Health and Rights among young people.
Assisted by expert and humble friends in this field and a very nice editor, I hope this writing can give a nice insight and initial awareness towards this niche yet important issue. In this article, we talked about how significant young people in cutting the gender-based violence cycle and how young men should be engaged in this very long process, as early as possible. Kindly read the full article by clicking the link in this pic below for PDF version:
(page 5 for this title and don't forget to read the whole bulletin for other larger views about this issue from other countries in Asia-Pacific region)
Sabtu, 08 September 2012
Internet Diet: It's Not About ACCESS
Sekitar enam bulan yang lalu, saya membuat keputusan lumayan besar. Berhenti pakai modem atau segala devices untuk akses internet di laptop pribadi (kecuali wi-fi kalau butuh banget). Memagari diri dari akses internet di luar jam kerja. Maunya sih, selain untuk kerjaan, internet hanya bisa diakses lewat HP seadanya. Selain di waktu kerja, akses internet saya sunat habis dan saya dedikasikan diri untuk akses informasi/hiburan dari media lain: film, buku, majalah, dsb. Sederhananya sih ingin lebih nikmati hidup secara offline. Lebih sering melakukan real face to face conversation daripada obrolan qwerty yang bikin jari pegel dan lebih sering ketawa meledak-ledak sampai sakit perut daripada sekedar LOL dan ROFL.
Lalu, apakah dengan membatasi akses internet pribadi cuma dari HP bisa bikin diet internet jalan?
Nggak! *buat saya*
Nggak, kalau komitmennya cuma segede debu. Rencana yang jalan pun nggak sampe 50%. Keadaan plus komitmen yang emang jauh lebih tipis dari tisu murah bikin rencana ini malah belok dari prinsip awalnya. Akses internet pribadi yang di-stop memang tetep jalan. Tapi bukannya jadi maksimalin konsumsi produk budaya lain, malah lebih maksimal pakai akses internet HP. Thanks to WhatsApp, Twitter Apps, push-mail, mobile browser, and others apps with poor and full-stars reviews!
Selain efek yang salah, saya pun ngerasa lebih nggak produkif tanpa akses internet di laptop. Terutama, produktif nulis karena otomatis tanpa koneksi internet, laptop pun jarang dibuka kecuali kalau perlu banget.
Jadi, minggu ini saya putuskan untuk kembali menghubungkan tali kasih yang sempat terputus antara laptop saya dan koneksi internet. Pada akhirnya, bukan akses yang diputus supaya bisa kendaliin diri, tapi N-I-A-T. Jadi, bukan devices-nya yang disunat, tapi niat dan nilainya yang dipertajam. So, welcome back, access!
Label:
digital age,
dunia,
otak kiri
Langganan:
Entri (Atom)


